UJIAN TENGAH SEMESTER

BELAJAR DAN PEMBELAJARAN

                                                                              

 

 

 

OLEH:

NAMA       : HARIYANTO

NIM            : 1111016100018

KELAS       : PENDIDIKAN BIOLOGI II(A).

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

JURUSAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN

UIN SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA

2012

 

  1. 1.      Perbedaan teori belajar antara behaviorism,kognitivism,dan konstruktivism adalah sebagai berikut :

 

  1. Teori belajar behaviorisme

Behaviorisme berasal dari kata behave yang artinya berperilaku dan isme  yang artinya aliran[1]. Dalam psikologi, behaviorisme merupakan pendekatan yang didasarkan atas proporsisi (gagasan awal) bahwa perilaku dapat dijelaskan dan dipelajari secara ilmiah. Karakteristik dari pendekatan behaviorisme dalam belajar adalah pemahaman terhadap kejadian-kejadian dilingkungan untuk memprediksi perilaku sesorang, bukan pikiran, perasaan,ataupun kejadian internal lain dalam diri orang tersebut[2]. Jadi dapat dijelaskan bahwa teori belajar yang menggunakan pendekatan behaviorisme ini adalah teori belajar yang didasari tentang perilaku seseorang dan kemampuan sesorang untuk memberikan respons (tanggapan) dari berbagai stimulus (rangsangan) . Teori ini juga mengajarkan bahwa belajar itu akan terjadi apabila terjadi proses perubahan tingkah laku. Dengan kata lain proses belajar itu sendiri terjadi pada saat sudah adanya proses perubahan tingkah laku dari siswa. Penerapan teori ini dalam pendidikan biasanya menggunakan apa yang dikenal dengan ganjaran atau penguatan dan hukuman “rewards” dan “punishment”[3]. Maksud dari pemberian ganjaran atau penghargaan ini adalah salah satunya untuk menumbuhkan motivasi siswa  untuk belajar. Dengan adanya rewards ini siswa merasa segala sesuatu yang baik yang ia kerjakan dihargai oleh orang lain.Sedangkan adanya hukuman atau punishment disini dimaksudkan agar siswa enggan untuk melakukan hal-hal yang diluar kaidah kebaikan. Sedangkan dengan adanya hukuman diharapkan sesuatu yang tidak mendukung proses belajar menjadi berkurang.

  1. Teori belajar kognitivisme

Teori belajar kognitisme ini berkembang setelah teori behaviorisme. Kognitivisme adalah teori yang mengalihkan semuanya pada “otak”. Mereka berpendapat bagaimana manusia memproses dan menyimpan informasi sangat penting dalam proses belajar. Akhirnya proposisi ( gagasan awal ) inilah yang menjadi fokus baru mereka[4]. Jadi dapat dijelaskan disini bahwa belajar menurut teori ini adalah proses mental secara internal,termasuk proses pemahaman,proses mengingat dan proses pembentukan persepsi terhadap sesuatu. Dari uraian diatas dapat kita lihat bahwa teori ini memang sangat mementingkan kekuatan berpikir seseorang (daya pikir) sesorang dalam mengolah informasi. Seseorang dikatakan belajar apabila dia sudah mampu memproses informasi,yang kemudian dipahami,diingat,dan dia mampu menciptakan pandangan baru terhadap sesuatu. Teori ini menekankan juga bahwa belajar merupakan perubahan tingkah laku.

  1. Teori belajar konstruktivisme

Konstruktivisme adalah teori yang menyebutkan bahwa belajar sebagai proses pemebelajaran secara aktif untuk mengkonstruksi atau membangun gagasan-gagasan atau konsep-konsep baru yang telah dimiliki dimasa lalu atau pada saat itu[5]. Dalam teori ini belajar adalah penemuan hal-hal baru yang dilakukan secara pribadi oleh siswa/seseorang,baik berupa gagasan, pendapat dan lain-lain. Penemuan hal-hal baru tersebut didasari oleh pengalaman-pengalaman pada masa lalu atau masa sekarang, sehingga teori ini membuat siswa untuk lebih realistis pada dunia nyata. Peran guru dalam teori ini adalah sebagai fasilisator saja. Teori ini menginginkan siswa untuk dapat lebih aktif dalam belajar dan menemukan hal-hal yang ingin dia pelajari. Intinya dari teori ini adalah belajar harus berbasis pada siswa (student centered)[6].

Behaviorisme

Kognitivisme

Konstruktivisme

Teori yang megedepankan perubahan tingkah laku dari seseorang yang dilalukakan dengan kegiatan-kegiatan pembiasaan dan hubungan nya dengan lingkungan.

Teori belajar yang mengedepankan kemampuan otak sesorang atau akal pikiran untuk dapat menyimpan,memproses dan mengolah informasi yang didalamnya masuk proses pemahaman,mengingat dan penimbulan persepsi baru.

Teori yang lebih mengedapnkan bagaimana sesorang bisa mengkontruksikan informasi yang diterimanya dari pengalaman-pengalaman hidupnya dimasa lalu.,jadi ini merupakan teori belajar yang membuat sesorang yang ingin belajar itu lebih aktif dalam belajar.


[2] Ibid,hal.2.

[5] Ibid,hal 21

[6] http://repository.upi.edu/operator/upload/t_pk_0809388_chapter2.pdf, hal.20

  1. 1.      Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia  belajar adalah 1.berusaha  memperoleh ilmu; 2.berlatih ; 3 berubah tingkah laku atau tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman[1]. Jadi dari definisi belajar menurut KBBI, teori belajar yang diterapkan adalah sesuai dengan teori Behaviorisme. Hal ini bisa dikatakan karena definisi tersebut cenderung pada kegiatan pembiasaan, dan pelatihan yang lebih banyak mengacu pada teori behaviorisme. Seperti yang telah dijelaskan pada soal no 1, teori behaviorisme lebih memandang proses belajar dengan indicator keberhasilannya adalah perubahan tingkah laku. Hal ini jelas dicerminkan dalam definisi belajar menurut KBBI.

Pengertian belajar menurut Undang-Undang SIKDIKNAS belajaradalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar dalam suatu lingkungan belajar[2]. Proses interaksi tersebut diatur melalui standar proses pembelajaran. Menurut saya dari definisi belajar menurut undang-undang ini adalah termasuk kedalam teori kognitivisme. Karena dalam teori ini lebih ditekankan kepada proses. Dalam teori kognitivisme belajar dengan memperoleh dan mempergunakan bentuk-bentuk reppresentatif yang mewakili obyek-obyek itu di representasikan atau di hadirkan dalam diri seseorang melalui tanggapan, gagasan atau lambang, yang semuanya merupakan sesuatu yang bersifat mental yang dalam hal ini adalah akal pikiran manusia. Pada dasarnya belajar adalah suatu proses usaha yang melibatkan aktivitas mental yang terjadi dalam diri manusia sebagai akibat dari proses interaksi aktif dengan lingkungannya untuk memperoleh suatu perubahan dalam bentuk pengetahuan, pemahaman, tingkah laku, ketrampilan dan nilai sikap yang bersifat relatif dan berbekas.

Pengertian belajar menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 2007 adalah perubahan yang relative permanen dalam kapasitas pribadi seseorang sebagai akibat pengolahan atas pengalaman yang diperolehnya dan praktik yang dilakukannya. Dari definisi belajar ini, menurut saya teori yang digunakannya mengadopsi dari teori belajar konstuktivisme. Hal ini bisa kita lihat dari kemiripan pandangan yang lebih merujuk pada teori belajar konstruktivisme. Seperti yang kita ketahui, teori konstruktivisme disini adalah teori yang menempatkan belajar harus secara aktif yang dilakukan oleh siswa atau seseorang yang ingin belajar berdasarkan pengalaman-pengalamannya. Dan bisa kita lihat didefinisi belajar menurut peraturan menteri pendidikn juga mengatakan hal yang sama. Oleh sebab itu dapat kita simpulkan bahwa definisi belajar dari peraturan menteri ini sesuai atau diambil dari teori konstruktivisme.

Belajar menurut definisi para ahli adalah sebagai berikut :

  • Hilgard (1962) : “belajar adalah proses dimana suatu prilaku muncul atau berubah karena adanya respon terhadap sesuatu situasi”[3].
  • Margaret Gredler (1994): “Belajar adalah proses orang memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan, dan sikap. Sehingga peserta didik dapat mengetahui hal-hal yang baru dan dapat meningkatkan pengetahuan yang dimilikinya, mengubah dari tidak tahu menjadi tahu, dari yang salah menjadi benar, dan dari kurang baik menjadi baik”[4].

 

Defisini belajar menurut Hilgard (1962) adalah definisi belajar yang menganut teori Behaviorisme. Hal ini bisa saya kemukakan, karena menurut definisi ini sesorang dikatakan belajar apabila adanya perubahan tingkah laku yang menjadi dasar dari teori behaviorisme. Selain itu adanya kata respons dan stimulus yang erat kaitannya dengan teori behaviorisme semakin memperkuat bahwa definisi menurut Hilgard ini mengadopsi teori belajar behaviorisme. Sedangkan apabila kita lihat definisi belajar menurut Margaret Gradler (1994), teori belajar yang digunakan adalah teori belajar kognitivisme. Hal ini bisa saya katakan karena dari kutipannya tersebut ada unsur pengetahuan kognigtif yang sangat kuat. Coba kita lihat dari contoh kaliamat,”mengubah dari tidak tahu menjadi tahu”, jika kita telusuri maknanya, maka aka nada pengaruh otak dan rasa ingin tahu yang sangat besar dan mengacu pada teori kognitifisme.

 

  1. 2.      Perbedaan dan persamaan teori Pavlov dan skinner adalah sebagai berikut:

Perbedaan : Banyak sekali segi yang bisa diambil untuk menjelaskan perbedaan teori Pavlop dan Skinner ini. Tetapi untuk hal ini akan diambil pembedanya dari dua segi yaitu dari segi konsep dan dari segi definisi belajar.Seperti yang kita ketahui bahwa teori belajar Pavlov dikenal dengan teori belajar asosiasionistik yang berarti dalam proses belajar, asosiasi antara stimulus merupakan hal yang penting sehingga pilihlah stimulus yang tepat[5]. Maksudnya adalah dalam proses belajar itu sesorang harus mempunyai stimulus-stimulus yang tepat untuk mendapatkan respons-respons yang baik dan tepat .Jadi berdasarkan teori ini yang paling penting dalam menentukan proses belajar seseorang adalah stimulusnya. Sedangkan  jika Pavlov mengatakan stimulus yang penting, lain halnya dengan Skinner yang menyatakan dalam proses belajar bagaimana cara orang meresponlah yang penting. Kita belajar dari konsekuensi. Skinner mengenalkan istilah reinforcer positif , reinforcer negatif, hukuman dan reward.[6] Reinforcer positif merupakan sesuatu yang menyenangkan bagi anak sedangkan reinforcer negative sebaliknya. Disini dapat kita lihat perbedaan nya yaitu cara pandang tentang apa yang lebih penting dalam suatu proses belajar,apakah itu stimulusnya(teori Pavlov) ataupun cara meresponnya (teori Skinner). Tetapi yang paling signifikan terlihat dari kedua teori ini adalah adanya stimulus diskriminant tersebut,yaitu yang membedakan antara kondisi saat suatu perilaku berhasil secara efektif dan kondisi perilaku tidak akan efektif (Sarwono,1997:69).

Dari segi definisi belajar, Pavlov dan Skinner mendefinisikannya secara berbeda. Menurut Pavlov, belajar adalah Segala tingkah laku manusia juga tidak lain adalah hasil daripada conditioning. Yaitu hasil daripada latihan-latihan atau kebiasaan-kebiasaan mereaksi terhadap syarat-syarat atau perangsang-perangsang tertentu yang dialaminya dalam kehidupannya. Sedangkan menurut Skinner definisi belajar adalah perubahan tingkah laku yang ditunjukan oleh meningkatnya keseringan respons (Margaret E.Bell,1994:172). Jadi bisa kita lihat, bahwa Pavlop lebih menekankan pada kebiasaan-kebiasaan yang kemudian dijalani oleh sesorang yang kemudian dijadikan pengetahuan,sedangkan Skinner lebih memandang bahwa belajar itu adalah ketika sesorang sudah mengalami perubahan dari sikap,perbuatan dan yang lainnya kearah yang lebih baik yang ditandai dengan adanya tanggapan yang berulang dari suatu rangsangan.

Persamaan:  Jika kita lihat dari definisi belajar dari Pavlop dan Skinner serta konsep teori mereka,sebenarnya tidak hanya ada perbedaan dalam teori tersebut, tetapi juga ada persamaan. Persamaannya dari kedua teori tersebut adalah : kedua-duanya menekankan pada kebiasaan dan adanya hubungan antara stimulus dan respons yang ditunjukan oleh sesorang;dilakukan pemberian reinforcemet ( tidak adanya rewards) untuk meningkatkan tingkah laku;semua konsep belajar digunakan untuk membentuk perilaku,apabila tidak terjadi perubahan perilaku maka dianggap tidak mengalami proses belajar,dan menghindari punishment dalam pembentuikan perilaku-perilaku,serta menggunakan objek penelitian yang bukan manusia melainkan binatang,tetapi teori tersebut diterapakn pada kehidupan manusia. Jadi jika kita telusuri lebih jauh, maka teori-teori tersebut masih termasuk kedalam teori belajar Behaviorisme.

 

  1. 3.      Persamaan dan perbedaan teori Gagne dan Ausuble adalah sebagai berikut:

Perbedaan  :  Pendekatan belajar yang digunakan oleh Ausubel adalah meaningful learning yang berarti anak harus membuat belajar sebagai sesuatu yang bermakna. Belajar bukan hanya sekedar memasukkan informasi baru ke dalam skema di otak melainkan apa yang kita masukkan harus bermakna.Yang sangat berperan dalam teori ini adalah seorang guru, bagaimana ia dapat menciptakan jembatan bagi anak agar pelajaran baru yang akan dipelajari menjadi bermakna. Sebelum belajar sesuatu yang baru kalau bisa kita memiliki anchoring idea (ide tentang hal itu sebelum informasi baru masuk ke otak). Hampir serupa dengan Bruner dimana anak mengkaitkan apa yang sudah dipelajari dengan sesuatu yang ada di dalam skema otak cuma kalau ausubel menggunakan istilah “umum ® khusus”. Pelajari dulu hal-hal yang umum agar terbentuk skema di otak baru masukkan informasi baru dan kita kaitkan informasi baru dan lama sehingga membentuk jaring laba-laba.

Sedangkan  menurut teori Gagne, cara untuk menentukan prasyarat untuk suatu tujuan belajar adalah melakukan hierarki belajar. Sebuah hierarki belajar dibangun dengan bekerja mundur dari tujuan pembelajaran akhir. Dan kemampuan akhir yang dimiliki oleh siswa setelah belajar disebut kapabilitas[7].Gagne membagi membagi hasil belajar menjadi lima kategori kapabilitas yaitu informasi verbal,keterampilan intelektual,sikap serta kemampuan motorik. Disini ditekankan bahwa seseorang itu belajar dengan pandangan yang “Khusus”®”Umum”. Dengan adanya pola pikir tersebut,seseorang diajak menelaah kembali darimana suatu materi itu didapatkan. Seseorang diberikan suatu hal yang bersifat khusus untuk dapat menjelaskan hal-hal umum yang mendasarinya. Jadi bisa kita lihat disini, dari segi konsep perbedaan antara teori Gagne dan Ausuble adalah pandangan tentang pemberian materi itu. Gagne dengan gambaran “umum”®”khusus”,sedangkan Ausuble dengan gambaran “khusus’®”umum”.

Gagne

Ausuble

Teori ini mengatakan bahwa belajar pada manusia adalah system yang unik dan kompleks,dan terangkai secara komprehensif.

 Teori belajar ini mendeskripsikan bahwa belajar adalah menghubungkan informasi atau pengetahuan dalam struktur kognigtif. Ausubel lebih menekankan pada aspek pengolalahan yang memiliki pengaruh utama dalam belajar.

 

Persamaan   : Ada beberapa persamaann antara kedua teori ini, salah satunya lebih menekannkan bahwa belajar itu adalah sesuatu yang berhubungan dengan akal pikiran atau ditekankan pada “otak” seseorang. Dengan kata lain, kedua tokoh ini adalah pendukung teori kognitivisme.

 

  1. 4.      Perbedaan dan persamaan teori Piaget dan Brunner.

Perbedaan :  Tabel perbedaan Piaget dan Brunner adalah

PIAGET

BRUNNER

Menggunakan proses cognitive developmental artinya siklus belajar

Menggunakan proses discovery Learning artinya belajar untuk menemukan konsep sendiri

Skemanya sensory motoric- pra operasional- operasional konkrit-operasional formal. Tidak akan bisa kembali ke tahap awal

Skemanya enaktif- iconic-simbolik. Anak dapat kembali ke tahap awal jika diperlukan dalam berbagai masalah-masalah tertentu

Pembelajaran; eksplorasi, pengenalan konsep, aplikasi konsep

Pembelajaran memerlukan alat: model, dramatisasi, autoisasi

 

Teori Piaget tentang perkembangan kognitif ana merupakan salah satu tonggak munculnya  kognitivisme. Perkembangan  kognitif  merupakan  pertumbuhan  logika berpikir dari bayi sampai dewasa. Piaget  memiliki  asumsi  dasar  kecerdasan  manusia  dan  biologi  organisme berfungsi  dengan cara yang sama.  Keduanya  adalah sistem terorganisasi  yang secara konstan berinteraksi dengan lingkungan.  Pengetahuan merupakan interaksi  antara individu dengan lingkungan nya. Sedangkan Pendekatan belajar yang digunakan oleh Bruner adalah discovery learning yang berarti anak mengkonstruk pengetahuannya secara aktif. Pengetahuan diperoleh anak dengan mengkaitkan sesuatu yang baru dengan informasi lama yang ada di dalam otak. Menurut Bruner, belajar mencakup : perolehan informasi baru, transformasi dari pengetahuan, pemeriksaan terhadap ketepatan dari pengetahuan. Sebelum belajar , harus timbul rasa curiosity pada anak sehingga ia mau belajar. Ketika ada informasi baru, anak merasa asing dan penasaran apa artinya istilah tersebut, hal itulah yang memicu keinginan belajar anak. Seseorang melakukan kategorisasi dari apa yang dipelajari.Peran murid sangat penting dalam teori belajar Brunner.

Persamaan :

Dari kedua teori itu sebenarnya sedikit sulit untuk dapat menemukan persamaannya. Tetapi sebenarnya ada satu kesamaan yaitu dari mulai awal sampai akhir percobaan sama-sama mengguanakan serta mengekploitasi objek. Selain itu,dari kedua tokoh ini sebenarnya kedua-duanya sanagt terpengaruh oleh teori kognigtivisme,tetapi didalam perkembangan nya,teori yang dikeluarkan oeh Brunner lebih cenderung menggunakan teori konstruktivisme.


[1] Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional. Kamus Besar Bahasa Indonesia.2007,hal 17

[2]  Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional yang diakses dari http://www.inherent-dikti.net/files/sisdiknas.pdf pada 21 Mei 2012 pukul 21.26 WIB.

[3] Yudhayanti, Ratna dkk. Teori Dasar Psikologi Pendidikan. 2011 hal 32

[5]  http://www.slideshare.net/yayatore/teori-belajar diakses pada 21 Mei 2012 pukul 19.47 WIB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s