“Kekhasan Belitong”

Kearifan Lokal Daerah Belitung Timur

Belitung Timur merupakan salah satu kabupaten yang merupakan bagian dari 7 kabupaten di provinsi Bangka Belitung. Kabupaten Belitung Timur terletak dipulau Belitung,tepatnya pada bagian timur pulau ini. Belitung Timur merupakan kabupaten yang kaya akan sumber daya alam, baik itu pertanian,pertambangan,maupun kelautannya. Terlebih pada saat ini, pulau Belitung sedang hangat-hangatnya dibicarakan . Hal ini karena keindahan pantai-pantainya yang sangat eksotis serta batu-batu granit yang mengelilingi setiap pantainya.

 Sebagai kabupaten yang kaya dengan sumber daya alam,kabupaten ini juga kaya akan budaya dan kearifan local yang tumbuh dari kebiasaan masyarakatnya yang secara umum bermata pencarian sebagai petani,nelayan dan penambang timah putih. Penduduk asli dari Belitung Timur merupakan keturunan ras melayu dan mayoritas beragama islam. Tetapi adapula penduduk yang beragama Buddha,Kristen, dan Hindu,dan yang lebih dominan adalah etnis Tionghoa .Meskipun demikian, kerukunan antar umat beragama di kabupaten ini sangat terjalin dengan baik. Setiap orang saling menghargai kepercayan masing –masing pemeluk agama yang berbeda. Hal ini dibuktikan dengan perdamaian yang tercipta. Misalnya pada saat umat muslim di Belitung Timur merayakan Idul Fitri,pemeluk agama lain sangat toleran, bahkan sampai mengantarkan makanan sebagai hadiah. Sebaliknya, ketika etmis Tionghoa misalnya merayakan Imlek atau Cap Go Mei, umat muslim tidak segan-segan ikut perayaan dan mengirim hadiah.

Penduduk asli Belitung Timur dulunya adalah petani khususnya petani lada dan padi, sebelum nelayan dan penambang timah .Hal ini dibuktikan dengan banyak nya lokasi pertanian dan peninggalan-peninggalan sejarah para leluhur yang berkaitan dengan alat-alat pertanian seperti; ngiruk ( seperti dulang berbentuk segitiga untuk membersihkan padi) ; Tampa ( berbentuk bulat dari anyaman bambu, untuk membersihkan beras); Lesong  dan Alu ( alat penumbuk padi yang berbentuk segiempat dan ditengahnya terdapat lubang ) dan masih banyak lagi. Dari pertanian ini kemudian timbullah budaya-budaya setempat yang yang berhubungan dengan proses bertani. Proses ini dikenal dengan istilah berume atau dalam bahasa Indonesia artinya adalah berkebun.  Berikut ini adalah proses pertanian padi didaerah Belitung Timur yang merupakan pertanian kering ( sawah kering) tanpa system irigasi.

Proses berume ini dimulai dengan pembukaan lahan bebak ( hutan ) yang dinamakan nebas (memotong pohon dan tanaman yang mengganggu) . Selanjutnya  setelah dibersihkan, pohon-pohon dan tanaman tersebut di tunggu hingga kering lalu dibakar.Pada saat sebelum pembakaran ini, ada semacam selamatan yang dipimpin oleh kepala keluarga atau untuk pertanian besar harus dipimpin oleh ketua adat,acara ini disebut dengan mubor tunu.Dalam acara ini biasanya yang disajikan adalah Bubor Dawat (bubur dawet) yang disajikan kepada seluruh keluarga yang ada, atau orang-orang yang terlibat serta para tetangga. Hal inilah yang mempererat tali silahturahmi antar sanak saudara,tetangga dan orang lain.

Selanjutnya setelah di tunu (bakar),lahan tersebut dibersihkan dari sisa-sisa kayu dan segala hal seperti akar pohon, yang disebut dengan ngereda . Serangkain proses tersebut dilanjutkan dengan penamaman tanaman padi terlebih dahulu yang disebut dengan nuggal. Proses nuggal ini biasanya dilakukan oleh kaum perempuan dan dibantu anak-anak mereka. Setelah proses  ini berakhir,petani tinggal menunggu padinya tumbuh,berbuah dan siap dipanen. Biasanya untuk mengidupi keluarga pada saat menunggu,para lelaki sering menangkap ikan disungai dengan tombak yang disebut dengan numbak, kemudian setelah mengenal kail kebiasaan itu berubah. Mereka tidak lagi menggunakn tombak, melainkan  kail yang dikenal dengan istilah bebanjor.

Masa panen padi di daerah Belitung Timur juga diawali dengan pembacaan doa selamat . Barulah kemudian panen padi dapat dilakukan. Keunikan tersendiri untuk cara memanen padi bagi daerah ini. Jika biasanya padi dipanen dengan cara di potong pohonnya, didaerah ini padi dipanen dengan cara di rurut ( ditarik biji padinya) sehingga tidak ada  biji padi yang terbuang sia-sia.

Tahap terakhir dari proses berume  ini adalah selamat tanda syukur kepada Allah yang dikenal dengan istilah maras taun . Maras taun  ini dilakukan di rumah ketua adat atau dukun kampong. Jadi setiap penduduk pada satu hari yang telah ditentukan berbondong-bondong erumah ketua adat dengan membawa kesalan dan tambul seiklasnya.  Kesalan merupakan irisan daun tenggeruse ( daun yang dianggap sacral yang berwarna hijau dan hanya ada dipulau Belitung) yang dan daun ati-ati ( daun berwarna ungu yang menjadi pendamping daun tenggeruse) yang nantinya akan dikumpulkan dan di doakan oleh ketua adat dan dipercaya sebagai penolak bala. Sedangkan tambul adalah makanan hasil panen. Biasanya  tambul itu identik dengan penganan dari beras ketan yang dibungkus dengan daun lais ( sejenis pandan ) yang dinamakan lepat pulut . Setelah acara doa selesai, kemudian adalah satu acara yang disebut dengan berebut  kesalen. Acara ini merupakan puncak dari maras taun ini, disini orang-orang kampung akan berebut kesalen untuk keluarga mereka. Sesampainya dirumah, kesalen akan di mandikan ketubuh  atau bisa juga diusapkan dan sisanya disebarkan ke setiap penjuru rumah. Tetapi pada saat ini, karena pertanian padi sudah sedikit jarang dilakukan maka maras taun  dilaksanakan untuk setiap tanggal 1 Muharram untuk memperingati tahun baru islam.

Lahan bekas pertanian padi biasanya hanya bisa dimanfaatkan untuk 3 kali penanaman padi darat,oleh sebab itu masyarakat kemudian menanami lahan tersebut dengan lada. Dan untuk saat ini karena lada dirasa kurang produktif lagi, maka lahan bekas pertanian padi dan lada ditanami dengan pohon sengon dan jati.

Kearifan local yang bisa saya tangkap dari kegiatan ini adalah gotong royong nya, persaudaraaan, tali silahturahmi  yang ditunjukan oleh setiap penduduk. Mereka juga sangat menghargai alam dengan  tidak berpindah-pindah tempat untuk bertani. Tetapi mereka selalu berpikir hal apa yang harus mereka lakukan demi menjaga keutuhan alam. Ini dibuktikan dengan mereka mencari tanaman yang produktif di lahan yang sudah beberapa kali ditanami tanaman-tanaman sebelumnya. Selain itu, rasa bersyukur dengan tidak membuang makanan juga sangat saya junjung tinngi disini. Mungkin didaerah lain, rasa syukur itu dilakukan dengan memperebutkan makanan yang nantinya ada yang terbuang.Tetapi jika di Belitung Timur, rasa syukur itu diwujudkan dengan berbagi makanan.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s